Rumahku, Itu Kamu

“Fik, ini sudah brosur ketujuh loh yang aku sodorin ke kamu. Tipe yang gimana lagi sih yang kamu cari?” Suara Seto membuyarkan lamunan sahabatnya –Fika– sore itu.

“Tipe kayak kamu” sambil nyengir Fika menjawab.

“Yeee, ditanya serius malah jawabnya ngelantur kayak gitu. Lagi ngelamunin apa sih Fik? Jangan keseringan ngelamun deh, ntar kesambet loh. Gak takut apa?”

“Nggak, selagi ada kamu ngapain takut?”

“Yeee, ni anak bener-bener kesambet kali? Atau jangan-jangan kamu udah tertular virus Raja gombal kali ya? Mau jadi Ratu gombal ya Fik?”  sambil mengacak rambut Fika.

“Eh apa? Apa tadi? Kamu tadi bilang apa? Maaf, maaf lagi gak fokus, heheheh. Kamu bilang Ratu gombal? Huuuu enak aja, ogah ah disamain kayak gitu”

 “Iyaaah deh Nona Fika, maaf. Jangan sewot gitu dunk.  Makanya kalau diajak ngomong tuh dengerin dong Nooon”

“Heheh, iyah deh Pak Seto yang baik hati. Mana tadi, katanya bawa brosur baru. Dapat dari mana lagi kamu? Rajin benar ya. Atau jangan-jangan kamu udah jadi developer yah?”

“Nih, silahkan dilihat. Bingung deh mau yang kayak gimana lagi sih yang kamu cari?  Itu tadi aku dapat dari seorang teman, kebetulan kantornya lagi pameran. Ya sudah gih dilihat dulu” sambil menyodorkan brosur ke Fika.

“Fik, kalau kataku sih ya apapun tipenya itu bisa dirombak Fik, bisa direnovasi, bisa diredesign sesuka kamu, Yang terpenting kan fungsinya -sebagai tempat tinggal. Jadi ngapain lagi sih kamu harus repot-repot cari kesana kemari?”

“Oh, jadi merasa direpotin nih? Yaudah, gak apa-apa kok. Maaf ya udah ngerepotin kamu”

“Eh kok jadi ngambek gini sih? Kamu lagi dapet ya jadi sensi kayak gini? Maaf deh, serius.”

“Gak tahu” berlalu meninggalkan Seto dan brosur yang baru dibawanya.

                  __________________________________________________________

Klik kluk. Bunyi handphone Seto, tanda 1 pesan masuk.

1 new message from Fika.

 “Kalau lagi gak repot dan gak ganggu, tolong baca emailnya ya”

Tanpa berfikir panjang Seto pun menyalakan laptop – mengecek email seperti yang diminta Fika, sahabatnya.

Dear Seto,

Makasih ya untuk semua brosur yang udah kamu kasih ke aku. Sebenarnya aku gak butuh itu semua, itu hanya kamuflase saja. Aku setuju ama kamu, rumah itu fungsinya sebagai tempat tinggal. Makanya aku udah gak butuh brosur lagi! Toh sebenarnya aku udah nemu rumah yang tepat, rumah yang gak perlu dirombak, direnovasi atau bahkan  diredesign, aku udah nemu loh yang paket lengkap itu. Dan aku berharap aku bisa segera menempatinya, aku udah pengen merasa hangat dan aman berada disana.

Aku yakin kamu pasti penasaran ingin tahu kan?

Yaudah deh, apa sih yang gak buat sahabat seperti kamu. Tapi kamu harus janji ya, kamu jangan ketawa apalagi sampai pingsan karena ini, aku gak mau semuanya jadi berantakan loh. Janji?

Kamu udah siap kan? Aku bilang sekarang ya.

……

……

……

Rumahku, Itu Kamu.

 

Cheers,

Fika ♥

___________________

Jumlah kata: 444

Diikutkan dalam tantangan yang diadakan Non Inge.

Untuk infonya silah baca link berikut:

http://www.facebook.com/notes/non-inge/tantangan-/10150509126945773

Soto Koya

Hujan masih terus mengguyur tempat ini, siraman air dari langit itu sepertinya masih betah tuk terus membasahi bumi. Mungkin sebagai balasan karena sudah beberapa bulan terakhir tempat ini tidak mendapat tetesan dari langit, malah sudah ada beberapa tempat yang pecah-pecah karena  kekeringan.

Perutku terasa keroncongan, wajar saja siang tadi aku tidak beranjak dari kubikal mungilku karena harus menyelesaikan deadline tulisan  yang harus disetor ke editor. Tapi semuanya sudah beres sekarang, tulisan itu sudah bertengger manis di ruang editor. Yipiiie kerjaanku sudah selesai untuk hari ini. 10 menit lagi waktu pulang.

Udara dingin karena hujan ini semakin membuatku lapar. “Makanan yang hangat dan berkuah pasti nikmat untuk sore yang hujan ini” gumamku perlahan setelah mengambil tas di lokerku. “Semoga warung Bu Mar gak penuh sore ini” pintaku dalam hati sambil terus melagkahkan kaki ke lobby.

“Selamat sore Neng, baru pulang yah?” Sapa Si Pemilik warung, seorang Ibu setengah baya yang selalu ramah pada semua pengunjungnya.

“Ibu perhatikan Neng kesini sendiri terus? Mana nih Abangnya, kok gak pernah bareng lagi?” Tanyanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Sore Bu, kabar baik. Ibu sehat juga kan?” Menjawab sapaannya tadi dan menanyakan kabar dia tanpa harus menjawab pertanyaannya yang terakhir.

“Ibu baik juga kok Neng, Alhamdulillah. Terus, kok gak bareng Abang sih Neng? Ibu senang loh lihat Neng ama Abangnya itu, kompak dan cocok banget gituuu” Godanya lagi.

“Heheheh. Hmmm Abangnya.. Abangnya ada kok Bu tapi kayaknya lagi sibuk” Jawabku pelan padahal aku sendiri tidak tahu kamu sekarang ada dimana dan lagi ngapaian, kamu menghilang tanpa pernah memberi kabar berita.

“Pesan seperti yang biasa ya Bu. Kuahnya dibanyakin dikit, dagingnya juga ya Bu. Laper nih Bu, gak sempat makan siang tadi” Pintaku.

“Oke, tunggu bentar ya Neng” Balasnya

“Siiip Bu, makasih ya” Jawabku. Sambil menunggu aku mencoba membunuh waktu dengan mengecek timeline twitter, dari tadi belum sempat ngetweet.

15 menit berlalu tapi pesananku masih belum muncul tidak biasanya si Ibu seperti ini, warungnya tidak begitu ramai tapi kenapa sampai sekarang pesananku belum muncul juga. Biasanya sepadat apapun warungnya dalam sekejap pesananku sudah siap tersedia. “Ada apa gerangan dengan si Ibu ya?” Tanyaku dalam hati sambil terus balas-balas mention dari teman-teman.

Tiba-tiba aku jadi kepikiran kalimat si Ibu tadi, dia senang ngelihat kita – kamu jalan bareng aku yang dulu jadi langganan setia warung ini hampir tiap sore sepulang kantor. “Ahhh kamu sebenarnya dimana sih? Kok menghilang tanpa kabar berita gini?” Tanyaku dalam hati.

——————

“Soto koya pesanannya Mbak, maap udah buat Mbak lama nunggu” Pelan membuyarkan lamunanku

“Oh iya Mas, tidak apa-apa kok. Terimakasih ya” Jawabku sambil meraih mangkuk yang masih mengepulkan asap panas

“Masih suka menu seperti yang dulu ya Mbak? Ini Mbak saya tambah bawang goreng dan jeruknya ya” Menawarkan

Aku cuma mengangguk pelan. “Kayaknya dulu si Ibu tidak pernah punya pelayan cowok deh. Kok sekarang ada? Dan kenapa juga kata-katanya seperti sudah lama mengenalku? Dan kenapa juga dia masih setia berdiri disitu tidak langsung ke dapur untuk menemani si Ibu?” sambil mengingat dan tanyaku pada diri sendiri.

“Mas” Panggilku

“Ii..iiya Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyamu pelan

“Sejak kapan kerja ama Ibu? Kayaknya dulu gak ada karyawan cowok? Saya dulu gak pernah lihat Mas soalnya, tapi kok serpertinya Mas udah tahu tentang kebiasaan makan saya disini”? Tanyaku lagi

“Ooo..ooh iyah, anu, itu Mbak.. Hmm Ibu yang bilang ke saya?” Ucapmu sambil tunduk dan memperbaiki letak topimu

“Ohh gitu” Jawabku “Hm, tapi tapi masa sih Mas?” Aku sudah mulai curiga sepertinya ada yang gak benar ini. Si Ibu tadi juga tidak kelihatan sejak tadi. Biasanya dia sering hilir mudik sambil bercerita.

“Iyah Mbak, bener. Saya baru kok disini” Jawabmu lagi

“Oke, saya sudah selesai Mas. Si Ibu mana ya?” Sambil mengendarkan pandangan mencari sang pemilik warung.

Sebenarnya saya sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak pertama masuk kesini. Sebelum masuk tadi aku sempat melihat si Ibu tadi ngobrol ma seseorang dan sembari melihat ke arahku. Seperti membicarakan sesuatu dan di awal tadi gak seperti biasanya si Ibu jadi salting gitu menyapa aku.

“Mas, Mas ini sebenarnya siapa ya? Kayak pernah kenal sebelumnya. Mas, boleh buka topinya bentar gak. Bentaaaarrr aja Mas” pintaku pelan.

Kamu malah makin menunduk dan itu membuatku makin penasaran.

“Sore Ranti” Sapamu

“Haaaahh, kamu?” Aku terkejut melihat kamu seakan tidak percaya bisa melihat kamu lagi.

“Dari mana aja kamu selama ini? Kenapa menghilang tanpa kabar? Sadar gak sih sikap kamu itu sudah nyiksa aku banget?” Cecarku tanpa memberimu kesempatan bicara.

“Maaf Ranti, aku cuma… Aku cuma, ah sudahlah ceritanya panjang. Yang jelas aku udah disini lagi, aku janji deh gak bakalan ninggalin kamu lagi” Katamu.

“Mau kan nemenin aku makan menu favorite kita lagi, Soto Koya. Aku tahu kok kamu pasti tadi tidak menikmati semangkuk pesananmu tadi karena aku terus berdiri di belakang kamu. Kamu lapar kan? Kamu juga tadi gak makan siang kan? Mau yah nemenin aku?” Pintamu manja.

“Yaudah, Oke. Tapi janji gak akan pergi lagi ya!” Ancamku.

“Siiip, beress Tuan Putri” Sambil mengedipkan mata padaku.

“Bu, Soto Koyanya dua mangkuk lagi ya. Seperti Biasa ya Bu” Ucapmu dan aku berbarengan ke Bu Mar yang disambut dengan acungan dua jempol dari Ibu Pemilik warung yang selalu riang itu.

*****************

Request Mbak Wangi nih, maaf ya Mbak jadi kepanjangan gini 😀

#15HariNgeblogFF Super Duper Deh!

Yaaahh hari ini hari terakhir permainan #15HariNgeBlogFF yang didalangi Mbak Wangi dan Mas Momo. Hiiikss sedih juga padahal saya baru ikut permainan ini beberapa hari saja, eehh sekarang udah berakhir 😦

Karena ini hari terakhir saya jadi pengen menuliskan cerita tentang #15HariMenulisBlogFF versi saya dan sedikit menulis testimoni khusus untuk permainan ini dan kedua admin yang te-ou-pe abiiss pastinya. Testimoni? Aiihh jadi ingat zamannya FS dulu :p

#15HariMenulisBlogFF? Apa tuh? Menulis Blog berbentuk flash fiction atau cerita super pendek selama 15 hari, dalam 15 hari itu admin cantik dan admin cakep memberikan tema berbeda-beda pada para narablog. Tujuan dari #15HariMenulisBlogFF ini untuk mengurangi/menghilangkan efek writer’s atau blogger’s block yang mana penyakit ini pasti pernah singgah di narablog sekalian, entah karena mood yang tiba-tiba rusak atau memang sedang tak ingin saja menulis. Nah para admin ini memberikan solusi yang jitu lohh, ya caranya dengan menulis FF atau Flash Fiction.

Aiihh merasa seru dan tertantang nih, tersentil juga kali tepatnya. Blog WP ini sebenarnya ada sejak tahun 2007 tapi isinya baru seiprit, kebanyakan malah repost dari primary blog saya tahun 2011 kemarin saja tidak ada satu pun postingan yang berhasil terpublish, tidak ada yang tersimpan di draft juga karena kesibukan rutinitas kerja dan juga emang lebih fokus pada primary blog jadi deh blog WP ini seperti rumah tak bertuan #eeaaaahh

So, biar blog ini bisa hidup kembali saya memutuskan untuk mencoba permainan ini. Sekalian belajar ngegalau lewat cerita pendek 😀

Awalnya pengen ikutan permainan ini sejak hari ke-5 tapi hari itu saya belum bisa membuatnya, sudah mencoba membuatnya tapi yang ada saya tidak PD wal hasil ceritanya pun saya hapus. Baru deh di hari ke-6 saya mencoba membuatnya lagi dan voila jadi juga walau hasilnya tidak maksimal, yaa namanya juga belajar #membesarkandirisendiri.

Hari selanjutnya, hari ke-7 saya mencoba lagi dan kembali hasilnya saya posting begitupula dengan hari ke-8, kebetulan tema hari itu sepertinya bisa dilanjutkan dengan cerita sebelumnya jadi deh saya membuatnya seperti melanjutkan cerita kemarin, malah jadinya kayak cerbung, heheheh. FYI, saya sampe rela looh balik kantor jam 6 untuk menyelesaikan cerita-cerita itu entah kenapa ide cerita buat menulis itu muncul 10 menit menjelang jam pulang *tepok jidat* but it’s OK, demi #15HariMenulisBlogFF 🙂

Sayangya longweekend kemarin saya tidak bisa ikut karena si lepi kesayangan ngambek gak bisa dipake, padahal udah gregetan banget pengen ikutan *for honest, sepertinya saya mulai terbius dengan virus galau ngeFF ini* xiixix.

Saya tidak punya ide untuk menulis cerita di hari ke-13 tepatnya bingung si Odol mau diapain klo sedang jatuh cinta, heheheh. Di hari ke-14 kemarin sebenarnya saya sudah mulai menulis sedikit tapi lagi-lagi idenya terhenti dan memutuskan untuk menghapusnya.

Hikkss, sedih deh ternyata udah hari ke-15 dan adminnya emang kreatiiif banget buat hari terakhir ini mereka ngasih tantangan untuk menulis dua postingan dengan dua judul berbeda, gleeeekk! Yaah dengan semangat membara saya berhasil lohh menulis cerita ini juga ini. Meskipun semua tulisan saya sangat-sangat standar tapi tidak apalah saya bisa belajar dari tulisan teman-teman yang juga ikut meramaikan #15HariMenulisBlogFF 🙂

Buat adminnya, thanks banget ya Mbak udah buat permaianan seru ini. Klo gak ada permainan ini saya gak tahu kapan blog ini bisa diupdate lagi. Klo gak ada permainan ini mungkin saya tidak akan berani mencoba untuk menulis cerita pendek seperti ini. Ahh besok saya pasti kangen untuk menulis galau seperti ini lagi. Terimakasih ya Mbak – Mas admin yang kece 😉

Good job buat admin. Disela-sela kesibukan, kalian masih sempat juga mengadakan permainan kata yang seru ini. Thumbs up for both of you!

Terimakasih telah memberikan saya kesempatan untuk gabung dalam permainan ini ^____^

Akhir kata, keep on galau aja kali yaakk?? #eeaaa

Cheers,
Diah

Menikahlah Denganku

Lucky – Jason Mraz tiba-tiba mengalun. Kutengok jam diatas meja samping tempat tidurku, 01.30 dini hari artinya baru sekitar 30 menit aku memejamkan mata. Sambil malas-malasan ku raih handphone yang bertengger manis di dekat jam itu, tanpa melihat di display handphone aku sudah tahu siapa si penelpon tengah malam ini, itu memang ringtone khusus untuk kamu – Kutu Loncat  – panggilan mesraku untukmu seorang, sahabatku tersayang.

Sambil menguap aku mengangkat telpon “halo, ada apa dengan kamu Kutu loncat, koq tumbennya jam segini nelpon? Kangen aku ya? Ah klasik deh, kan baru dua jam yang lalu kamu nganterin aku pulang. Ada apa Hon? Kamu baik-baik saja kan?” ku buka pembicaraan.

Kamu hanya diam, tidak menjawab dan tidak berkata apa-apa.

“Huiiii, ada apa dengan kamu sih? Koq diem? Tumben kayak gini. Yaudah, aku tidur aja ya. Kamu cuma mau dengar suara ngorok aku aja kali nih?” kataku lagi.

Kamu masih diam tapi samar-samar aku mendengar suara kamu, aku tahu kamu ada disana dan aku pun pura-pura diam saja –  mengikuti permainanmu.

5 menit berlalu

…..

….

..

.

Dan dengarlah sayangku
Aku mohon kau menikah denganku
Ya hiduplah dengan ku
Berbagi kisah hidup berdua
Habiskan sisa hidup
Menikahlah denganku

Eittts, aku tiba-tiba teringat dengan lagu ini. Lagu dari Glenn Fredly beberapa tahun yang lalu. Tumbennya kamu dengar lagu melow kayak gini. Kamu kan selalu cuek bebek ketika aku bilang ada lagu baru yang keren, ada lagu baru yang sedang in dan bla bla bla… Kata kamu lagu keren itu seperti lagunya Linkin Park, Mick Jagger, atau sedikit melow lagu dari Jason Mraz. Eeeh koq tiba-tiba tengah malam gini kamu denger lagunya Glenn Fredly? Fikirku dalam hati.

“Kutuuuuuuuuuuuuuuuu” teriakku memanggilmu. “Kamu kenapa siihh? Kamu tidak sedang ngigo kan? Kamu baik-baik aja kan disana? Koq tiba-tiba jadi ajaib begini?”

Masih tidak ada jawaban darimu, masih diam dan  Glenn Fredly masih terus bernyanyi.

5 menit kemudian barulah suaramu terdengar “Kamu udah dengar lagunya kan Beib, iyah benar kata kamu waktu itu. Lagunya Glenn Fredly emang unyu-unyu yaah! Aku baru sadar dan…” ucapmu gantung

“Dan apaaa?” Tanyaku penasaran

“Lagu tadi sedikit mewakili isi hatiku, Nenek. Sebenarnya sejak tadi aku ingin mengatakannya tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Kamu kan tahu sendiri aku orangnya seperti apa, tidak pandai merangkai puisi indah apalagi menciptakan sebuah lagu khusus untukmu”

“Nek, kamu ngerti kan maksud aku?” Tanyamu perlahan

—- Gleeeekkk —-

Aku cuma terdiam, masih tidak percaya kamu mengungkapkan ini padaku. Kamu sahabatku, yang selama ini tempatku berkeluh kesah. Menceritakan semua unek-unek dan bahkan kamu tahu semua yang ada dihatiku, kepada siapa ingin kuberikan hatiku ini.

“Jadi, maksud kamu?” Tanyaku lagi.

“Iyah, mau kan kamu jadi milikku. Jadi Istirku, jadi Bunda buat anak-anakku nanti. Tidak ada kata pacaran, aku sudah tahu semua tentang kamu, walaupun aku tahu sampai sekarang kamu masih menyukai dia yang telah melukaimu. Tapi aku yakin aku bisa lebih dari dia” pintamu pelan tapi serius.

Tanpa harus bertanya lagi aku yakin kamu sedang serius, aku tahu kamu tidak pernah main-main untuk hal yang satu ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Yaaaaahh FF nya berakhir deh. Good job Mbak Wangi dan Mas Momo 🙂

Sah!

“Sah?”  terdengar suara Bapak setengah baya itu bertanya ke beberapa orang disekitarnya sesaat setelah kamu melafalkan kalimat sakral itu dengan satu tarikan nafas. Kalimat yang beberapa hari ini kamu hafalkan “takut salah nyebut nama kamu” katamu kemarin saat kita terakhir bertemu setelah sibuk mengurusi segala keperluan ini.

Kala itu aku cuma mencubit lenganmu dengan gemas sambil berkata “emang kamu rencana mau nyebut nama lain yah sampe takut salah gitu?” Tanyaku.

“Bukan begitu Princess, nama kamu kan panjang belum lagi nama Ayah kamu. Aku cuma takut salah aja gitu loohh, Darling” balasmu lagi.

Eh iya juga ya, nama yang diberikan oleh Ayah emang lumayan panjang dan ribet belum lagi nama Beliau. Yah wajar saja kalau kamu berhati-hati, kamu kan juga orang yang perfeksionis. Dan hari ini kalimat yang sakral itu pun telah keluar dari mulutmu dengan satu tarikan nafas, tanpa harus mengulang lagi! Kereeen, kamu memang keren dan selalu bisa ku banggakan.

Serentak orang disekita kita menjawab “Sah” atas pertanyaan yang dilanturkan Bapak setengah baya tadi dan semua orang pun turut mendoakan untuk kebahagiaan kita.

Terlihat jelas rona mukamu yang bahagia dan kecemasan yang sedari tadi kamu sembunyikan terhapus sudah berubah menjadi rona merah bahagia. Aku telah sah menjadi milikmu dan aku pun telah sah memilikimu. Ingin rasanya lompat karena terlalu bahagia, rasanya baru kemarin aku mengenalmu dan hari ini kata “Sah” itu telah terucap menandakan kita telah resmi saling memiliki.

Ditengah kebahagian itu…

Buuuuuuukkk!!

“Aooooooo” rintihku pelan, aku terjatuh dari tempat tidur. Ternyata semua itu hanya mimpi, aku belum sah jadi milikmu. Aku terlalu bahagia dan sekaligus cemas menghadapi hari esok, takut semua tidak berjalan seperti rencana kita. Tapi aku yakin dengan kesungguhanmu padaku, aku akan bersabar hingga esok tiba, sehari lagi – iyah sehari lagi kita akan sah untuk benar-benar saling memiliki.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ikut lagi setelah beberapa hari ini absen, yaaahh hari ini hari terakhir FF nya. 292 kata untuk sore ini 🙂

Inilah Aku Tanpamu

Aku masih setia menunggumu, masih sama seperti yang dulu. Rasa ini masih sama, masih untukmu – Bintang.

Malam ini aku berdiri di balkon rumah, menghabiskan malamku disini, sendiri! Meskipun dinginnya angin malam yang semakin menusuk kulit tapi aku masih tetap setia berdiri disini. Menikmati malam yang indah ini, langit yang bersih ditemani dengan bintang yang menghiasi indahnya langit.

Ingatkah kamu? Kita sering melewatkan malam bersama di balkon ini. Menikmati udara malam, melihat bintang yang bertaburan di langit sana.

Ingatkah kamu? Kamu pernah menjelaskan tentang rasi bintang kepadaku dan aku pun menyimaknya dengan sesekali mengangguk meskipun sebenarnya aku tidak begitu mengerti dengan penjelasanmu tentang rasi bintang itu. Aku hanya mencoba untuk mengerti seperti aku mengerti tentang dirimu, tentang kebiasaanmu, tentang kesukaanmu, tentang kamu, iyah semua hal yang ada di dirimu.

Ingatkah kamu? Dibalkon ini juga untuk pertama kalinya kau mengungkapkan rasamu padaku, rasa sayang yang berbeda – bukan rasa sayang kepada sahabatnya, katamu malu-malu. Rasa sayang terhadap lawan jenis – tambahmu.

“Aku sayang kamu lebih dari sahabat. Aku sayang kamu karena kamu wanita yang begitu mengerti aku” katamu pelan namun meyakinkanku.

Arrgghh, tahukah kamu? Malam itu aku begitu terkejut mendengar pengakuanmu itu. Aku tidak menyangka kamu yang pendiam dan terlihat cuek menyimpan rasa yang dalam padaku. Sebenarnya aku sudah lama menunggumu, menunggu kau ucapkan kalimat pamungkas itu dan malam itu akhirnya kamu pun mengungkapkannya. Aku terharu, aku senang, aku bahagia.

Ingatkah kamu? Setelah mengatakan perasaanmu itu kamu pernah menunjuk satu bintang dan berbisik mesra ditelingaku “bintang itu adalah aku, pandangilah ia jika suatu hari aku tak ada disampingmu”.

Tapi malam ini tidak ada kamu disini. Aku sendiri. Sudah berbulan-bulan aku tidak menerima kabar darimu sejak kepergianmu itu.

Sudah berbulan-bulan aku hanya bisa memandangi langit sendiri, sendiri tanpa adanya kamu disisiku. Bercerita tentang rasi bintang.

Inilah aku tanpamu, rapuh – sepi dan selalu ingin menyendiri.

Aku tidak mau ada sosok lain yang menggantimu untuk menemaniku menikmati indahnya langit malam. Menikmati ramainya malam yang bertabur bintang.

Inilah aku tanpamu, gelap bagai malam tanpa bintang.

Bintangku hanya satu, bintang yang bersinar terang yang sedang ku pandangi sekarang. Sambil berucap lirih “Bintangku, kembalilah padaku”.

********

344 kata untuk hari ini 🙂

Aku Benci Kamu Hari Ini

Aku meninggalkan Dino begitu saja tanpa harus mendengarkan penjelasan darinya, mungkin tidak untuk saat ini. Hatiku hancur, sakit, sedih bercampur aduk mengetahui dia bermain dibelakangku. Aku tidak tahu siapa wanita yang mengirimkannya sepucuk surat bersampul pink itu dan aku juga tidak tahu sejak kapan mereka melakukannya. Yang jelas sore ini aku begitu terkejut dibuatnya, sangat terkejut malah. Betapa tidak, hari ini adalah hari jadian kami – yang kedua – terpaksa harus mendapati dia bersurat-suratan degan orang lain.

Padahal jam makan siang tadi aku sudah menelfon cafe langganan kami, mereservasi tempat untuk special dateku bersama Dino malam ini. Tempat ini merupakan salah satu tempat fave kami untuk spend quality time bersama. Bicara banyak hal dari hati ke hati, bercerita tentang hari-hari yang kami lewati, bercerita tentang rencana kami dua tahun lagi dan banyak lagi hal menarik yang rasanya tidak pernah habis untuk dibahas satu persatu.

Aku sudah berada di lobby kantor Dino, dari kejauhan aku masih bisa mendengar teriakannya memanggilku. Memanggilku untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya, hingga seisi kantornya menoleh kepadaku dan mungkin bertanya kenapa aku terburu-buru seperti ini, tidak biasanya aku keluar dari kantor Dino sendiri karena kami akan selalu keluar bersama, Dino dengan mesra menggamit tanganku dan memanjakanku bak ratu hingga membuat teman-temannya selalu bersorak sorai memandangi kami. Ah, sungguh Dino itu sebenarnya romantis.

Aku begitu marah, aku cemburu, aku tidak suka dibohongi seperti ini. Kurasakan mukaku semakin panas dan sepertinya kelopak mataku terasa berat tapi aku menahannya, aku tidak mau menangis di hapadan mereka – di depan teman-teman kantor Dino. Kukayuh langkah semakin cepat untuk sampai di parkiran, membuka pintu mobil melemparkan tas ke jok belakang dan menutup pintu mobil dengan keras.

Air mata itu tidak bisa dibendung lagi, keluar mengalir begitu saja dan aku pun membiarkannya. Biarlah aku menangis biar sesak di dada ini hilang, aku tidak mau menyetir dengan keadaan emosi seperti ini. Setelah ku rasakan emosi sedikit mereda aku pun berniat untuk segera meninggalkan tempat ini.  Ku ambil tas untuk mencari kunci mobil dan juga BB, “AKU BENCI KAMU HARI INI” satu kalimat yang semuanya ku tulis dengan huruf kapital menjadi statusku sore ini.

Berlalu meninggalkan areal parkiran kantor Dino, pergi tanpa tujuan akan kemana nantinya kukemudikan mobil biruku ini.

******

another galau  363  kata 🙂