Soto Koya

Hujan masih terus mengguyur tempat ini, siraman air dari langit itu sepertinya masih betah tuk terus membasahi bumi. Mungkin sebagai balasan karena sudah beberapa bulan terakhir tempat ini tidak mendapat tetesan dari langit, malah sudah ada beberapa tempat yang pecah-pecah karena  kekeringan.

Perutku terasa keroncongan, wajar saja siang tadi aku tidak beranjak dari kubikal mungilku karena harus menyelesaikan deadline tulisan  yang harus disetor ke editor. Tapi semuanya sudah beres sekarang, tulisan itu sudah bertengger manis di ruang editor. Yipiiie kerjaanku sudah selesai untuk hari ini. 10 menit lagi waktu pulang.

Udara dingin karena hujan ini semakin membuatku lapar. “Makanan yang hangat dan berkuah pasti nikmat untuk sore yang hujan ini” gumamku perlahan setelah mengambil tas di lokerku. “Semoga warung Bu Mar gak penuh sore ini” pintaku dalam hati sambil terus melagkahkan kaki ke lobby.

“Selamat sore Neng, baru pulang yah?” Sapa Si Pemilik warung, seorang Ibu setengah baya yang selalu ramah pada semua pengunjungnya.

“Ibu perhatikan Neng kesini sendiri terus? Mana nih Abangnya, kok gak pernah bareng lagi?” Tanyanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Sore Bu, kabar baik. Ibu sehat juga kan?” Menjawab sapaannya tadi dan menanyakan kabar dia tanpa harus menjawab pertanyaannya yang terakhir.

“Ibu baik juga kok Neng, Alhamdulillah. Terus, kok gak bareng Abang sih Neng? Ibu senang loh lihat Neng ama Abangnya itu, kompak dan cocok banget gituuu” Godanya lagi.

“Heheheh. Hmmm Abangnya.. Abangnya ada kok Bu tapi kayaknya lagi sibuk” Jawabku pelan padahal aku sendiri tidak tahu kamu sekarang ada dimana dan lagi ngapaian, kamu menghilang tanpa pernah memberi kabar berita.

“Pesan seperti yang biasa ya Bu. Kuahnya dibanyakin dikit, dagingnya juga ya Bu. Laper nih Bu, gak sempat makan siang tadi” Pintaku.

“Oke, tunggu bentar ya Neng” Balasnya

“Siiip Bu, makasih ya” Jawabku. Sambil menunggu aku mencoba membunuh waktu dengan mengecek timeline twitter, dari tadi belum sempat ngetweet.

15 menit berlalu tapi pesananku masih belum muncul tidak biasanya si Ibu seperti ini, warungnya tidak begitu ramai tapi kenapa sampai sekarang pesananku belum muncul juga. Biasanya sepadat apapun warungnya dalam sekejap pesananku sudah siap tersedia. “Ada apa gerangan dengan si Ibu ya?” Tanyaku dalam hati sambil terus balas-balas mention dari teman-teman.

Tiba-tiba aku jadi kepikiran kalimat si Ibu tadi, dia senang ngelihat kita – kamu jalan bareng aku yang dulu jadi langganan setia warung ini hampir tiap sore sepulang kantor. “Ahhh kamu sebenarnya dimana sih? Kok menghilang tanpa kabar berita gini?” Tanyaku dalam hati.

——————

“Soto koya pesanannya Mbak, maap udah buat Mbak lama nunggu” Pelan membuyarkan lamunanku

“Oh iya Mas, tidak apa-apa kok. Terimakasih ya” Jawabku sambil meraih mangkuk yang masih mengepulkan asap panas

“Masih suka menu seperti yang dulu ya Mbak? Ini Mbak saya tambah bawang goreng dan jeruknya ya” Menawarkan

Aku cuma mengangguk pelan. “Kayaknya dulu si Ibu tidak pernah punya pelayan cowok deh. Kok sekarang ada? Dan kenapa juga kata-katanya seperti sudah lama mengenalku? Dan kenapa juga dia masih setia berdiri disitu tidak langsung ke dapur untuk menemani si Ibu?” sambil mengingat dan tanyaku pada diri sendiri.

“Mas” Panggilku

“Ii..iiya Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyamu pelan

“Sejak kapan kerja ama Ibu? Kayaknya dulu gak ada karyawan cowok? Saya dulu gak pernah lihat Mas soalnya, tapi kok serpertinya Mas udah tahu tentang kebiasaan makan saya disini”? Tanyaku lagi

“Ooo..ooh iyah, anu, itu Mbak.. Hmm Ibu yang bilang ke saya?” Ucapmu sambil tunduk dan memperbaiki letak topimu

“Ohh gitu” Jawabku “Hm, tapi tapi masa sih Mas?” Aku sudah mulai curiga sepertinya ada yang gak benar ini. Si Ibu tadi juga tidak kelihatan sejak tadi. Biasanya dia sering hilir mudik sambil bercerita.

“Iyah Mbak, bener. Saya baru kok disini” Jawabmu lagi

“Oke, saya sudah selesai Mas. Si Ibu mana ya?” Sambil mengendarkan pandangan mencari sang pemilik warung.

Sebenarnya saya sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak pertama masuk kesini. Sebelum masuk tadi aku sempat melihat si Ibu tadi ngobrol ma seseorang dan sembari melihat ke arahku. Seperti membicarakan sesuatu dan di awal tadi gak seperti biasanya si Ibu jadi salting gitu menyapa aku.

“Mas, Mas ini sebenarnya siapa ya? Kayak pernah kenal sebelumnya. Mas, boleh buka topinya bentar gak. Bentaaaarrr aja Mas” pintaku pelan.

Kamu malah makin menunduk dan itu membuatku makin penasaran.

“Sore Ranti” Sapamu

“Haaaahh, kamu?” Aku terkejut melihat kamu seakan tidak percaya bisa melihat kamu lagi.

“Dari mana aja kamu selama ini? Kenapa menghilang tanpa kabar? Sadar gak sih sikap kamu itu sudah nyiksa aku banget?” Cecarku tanpa memberimu kesempatan bicara.

“Maaf Ranti, aku cuma… Aku cuma, ah sudahlah ceritanya panjang. Yang jelas aku udah disini lagi, aku janji deh gak bakalan ninggalin kamu lagi” Katamu.

“Mau kan nemenin aku makan menu favorite kita lagi, Soto Koya. Aku tahu kok kamu pasti tadi tidak menikmati semangkuk pesananmu tadi karena aku terus berdiri di belakang kamu. Kamu lapar kan? Kamu juga tadi gak makan siang kan? Mau yah nemenin aku?” Pintamu manja.

“Yaudah, Oke. Tapi janji gak akan pergi lagi ya!” Ancamku.

“Siiip, beress Tuan Putri” Sambil mengedipkan mata padaku.

“Bu, Soto Koyanya dua mangkuk lagi ya. Seperti Biasa ya Bu” Ucapmu dan aku berbarengan ke Bu Mar yang disambut dengan acungan dua jempol dari Ibu Pemilik warung yang selalu riang itu.

*****************

Request Mbak Wangi nih, maaf ya Mbak jadi kepanjangan gini 😀